Setiap negara mempunyai sistem perekonomian yang
berbeda, maka dari setiap negara mempunyai kebijakan yang berbeda-beda dalam
dunia perekonomian. Di Indonesia sendiri menganut sistem perekenomian yang
berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila.
Menurut UUD 1945, sistem perekonomian Indonesia tercantum dalam pasal-pasal 23, 27, 33 & 34. Demokrasi Ekonomi dipilih karena memiliki ciri-ciri positif yang di antaranya adalah (Suroso, 1993) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Menurut UUD 1945, sistem perekonomian Indonesia tercantum dalam pasal-pasal 23, 27, 33 & 34. Demokrasi Ekonomi dipilih karena memiliki ciri-ciri positif yang di antaranya adalah (Suroso, 1993) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Sejarah Perekonomian Indonesia, yaitu:
1. Pemerintahan Orde Lama
Pertumbuhan ekonomi yang menurun sejak tahun 1958 dan defisit anggaran
pendapatan dan belanja pemerintahan terus membesar dari tahun ke tahun. Dapat
disimpulkan bahwa buruknya perekonomian Indonesia selama pemerintahan Orde Lama
terutama disebabkan oleh hancurnya infrastruktur ekonomi, fisik, maupun
nonfisik selama pendudukan jepang. Dilihat dari aspek politiknya selama periode
orde lama, dapat dikatakan Indonesia pernah mengalami sistem politik yang
sangat demokratis yang menyebabkan kehancuran politik dan perekonomian
nasional.
2.
Pemerintahan Orde Baru
Maret 1966, Indonesia dalam era Orde Baru perhatian pemerintahan lebih
ditujukan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat lewat pembangunan
ekonomi dan sosial tanah air. Tujuan
jangka panjang dari pembangunan ekonomi di Indonesia pada masa Orde Baru adalah
meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui suatu proses industrialisasi
dalam skala besar. Perubahan ekonomi struktural juga sangat nyata selama masa
Orde Baru dimana sektor industri manufaktur meningkat setiap tahun.
3.
Pemerintahan Transisi
Sekitar bulan September 1997, nilai
tukar rupiah terus melemah, hingga pemerintah Orde Baru mengambil beberapa
langkah konkret, antaranya menunda proyek-proyek dan membatasi anggaran belanja
negara. Pada akhir Oktober 1997, lembaga keuangan internasional memberikan paket
bantuan keuangaannya pada Indonesia.
4.
Pemerintahan Reformasi
Ketidakstabilan politik dan sosial yang
tidak semakin surut selama pemerintahan Abdurrahman Wahid menaikkan tingkat country
risk Indonesia.
5. Pemerintahan Gotong Royong
Pemerintahan Megawati mewarisi kondisi
perekonomian Indonesia yang jauh lebih buruk daripada masa pemerintahan Gusdur.
Inflasi yang dihadapi Kabinet Gotong Royong pimpinan Megawati juga sangat
berat.
Sistem Ekonomi Indonesia
Sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia,
kapitalisme, sosialisme, atau gabungan dari keduanya. Dalam memahami ekonomi
yang diterapkan di Indonesia, paling tidak secara konstitutional, perlu
dipahami terlebih dahulu ideologi apa yang dianut oleh Indonesia. Pasal 33
dianggap pasal terpenting yang mengatur langsung sistem ekonomi Indonesia,
yakni prinsip demokrasi ekonomi. Secara rinci pasal menetapkan 3 hal, yakni :
a. Perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
b. Cabang-cabang
produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak
dikuasai negara.
c. Bumi dan air
dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Hambatan Perdagangan Internasional di Indonesia
Berikut ini beberapa hambatan yang sering muncul dalam
perdagangan internasional.
a. Perbedaan Mata Uang Antarnegara
b . Kualitas Sumber Daya yang Rendah
c . Pembayaran Antarnegara Sulit dan Risikonya
Besar
d . Adanya Kebijaksanaan Impor dari Suatu Negara
e . Terjadinya Perang
f . Adanya Organisasi – Organisasi Ekonomi Regional
Bentuk – bentuk hambatan perdagangan yang muncul
akibat adanya kebijakan ekspor-impor, antara lain:
a. Tarif atau bea cukai
Tarif adalah pembebanan pajak (custom duties) terhadap
barang-barang yang melewati batas kenegaraan. Tarif dapat digolongkan
menjadi beberapa bagian, antara lain :
- Bea ekspor
- Bea transit
- Bea impor
- Uang jaminan impor
b. Kuota Impor
Kuota membatasi banyaknya unit yang dapat diimpor.
Tujuannya adalah untuk membatasi jumlah barang tersebut di pasar dan
menaikkan harga produknya.
c. Subsidi
Subsidi adalah bantuan pemerintah untuk produsen
lokal. Subsidi dihasilkan dari pajak yang dipungut pemerintah dari rakyat.
d. Exchage Control
Biasanya, negara – negara yang menggunakan kontrol
devisa adalah mereka yang ekonomi lemah. Kontrol ini memungkinkan negara –
negara yang ekonominya lebih stabil membatasi jumlah volatilitas nilai tukar
mata uang yang masuk / keluar.
e. State Trading Operasion
State Trading Operasion adalah pemerintah dalam
perdagangan melakukan kegiatan ekspor.
f. Peraturan anti-dumping
Politik Dumping adalah menjual suatu barang yang
nilainya lebih tinggi dari harga beli, baik dijual di luar negeri maupun dalam
negeri tetap mendapat untung.
Hubungan Antara Industrialisasi Dan Kemiskinan
Industrialisasi suatu proses interkasi antara perkembangan
teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan
pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi.
Industrialisasi di Indonesia semakin menurun
semenjak krisis
ekonomi tahun 1998. Kemunduran ini bukanlah berarti Indonesia tidak
memiliki modal untuk melakukan investasi pada industri dalam
negeri, tetapi lebih kepada penyerapan barang hasil produksi industri dalam
negeri. Membuka pasar dalam negeri adalah kunci penting bagi industri Indonesia
untuk bisa bangkit lagi karena saat ini pasar Indonesia dikuasai oleh produk
produk asing.
FAKTOR-FAKTOR PEMBANGKIT DAN PENGHAMBAT
INDUSTRI DIINDONESIA
A. Pembangkit.
Ada beberapa faktor yang dapat membangkitkan
perindustrian diindonesi, diantaranya adalah :
1. Struktur organisasi
2. Ideologi
3. Kepemimpinan
B. Penghambat
Faktor-Faktor yang dapat menghambat perkembangan
perindustrian adalah :
1. Keterbatasan teknologi
2. Kualitas sumber daya manusia
3. Keterbatasan dana pemerintah
Kemiskinan
Kemiskinan
adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan
Kemiskinan merupakan
sebuah kondisi yang berada di bawah garis nilai standar kebutuhan minimum, baik
untuk makanan dan non makanan, yang disebut garis kemiskinan (poverty line)
atau batas kemiskinan (poverty threshold). Garis kemiskinan adalah sejumlah
rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk dapat membayar kebutuhan
makanan setara 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan non-makanan
yang terdiri dari perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi,
serta aneka barang dan jasa lainnya.
Hubungan Antara
Industrialisasi dan Kemiskinan
Di Indonesia, Tulus Tambunan (2001, h-108) mencatat
adanya proses industrialisasi dimulai dari tahun 1969 dan berhasil mengangkat
tingkat pendapatan per kapita di atas US$ 1.000 per tahun dengan tingkat
pertumbuhan ekonomi 7% pada saat penduduk 200 jutaan. Namun saat tulisan ini
dibuat, keadaan menurun jauh, hingga diperkirakan income perkapita hanya 650
US$ dengan pertumbuhan ekonomi di bawah 4% dan jumlah penduduk hampir 210 juta.
Yudo Swasono mencatat bahwa setelah krisis ekonomi yang terjadi pada periode
1982-1986, pada waktu itu pertumbuhan hanya 5%.
Selanjutnya dengan proses
industrialisasi pertumbuhan meningkat dan berhasil recovery (pulih kembali),
hingga tumbuh tahun 1989 ialah 7,5%, tahun 1991 mencapai 6,6% dan pada akhir
Repelita X, atau akhir Pembangunan Jangka Panjang II akan tumbuh dengan
rata-rata 8,7%. (Muhammad Thoyib, 1995, h-4). Namun perkiraan ini meleset jauh,
sebab mulai 1997 terjadi krisis moneter yang berlanjut hingga riset ini
ditulis, ternyata kondisi itu masih belum pulih.
Industrialisasi yang
berkembang di era sekarang ini menyedot begitu banyak tenaga kerja. Hal ini
telah merubah alur pendistribusian tenaga kerja dari sektor non industri menuju
sektor industri. Hal ini juga berdampak pada pendapatan yang diperoleh oleh
tenaga kerja tersebut. Dengan kata lain secara tidak langsung industrialisasi
telah mempengaruhi tingkat kemiskinan.
Komentar
Posting Komentar